Potensi Kelapa Lampung Belum Diolah Maksimal

Potensi Kelapa Lampung Belum Diolah Maksimal
Sejak puluhan tahun silam, banyak masyarakat di Pesisir Barat yang menjadikan perkebunan kelapa sebagai sumber penghasilan. Sayang, potensi ekonomi komoditas ini belum diolah maksimal.Selama turun temurun, masyarakat hanya mengambil sebagian “kecil” manfaat ekonomi dari kelapa, yang dikenalnya secara tradisional. Seperti mengolah buah kelapa menjadi minyak goreng atau mengambil nira untuk dijadikan gula merah. Selebihnya, baru memanfaatkan sabut dan pelepahnya untuk kayu bakar.Kondisi seperti itu, masih terjadi hingga saat ini. Belum banyak masyarakat yang mengambil manfaat ekonomi dari mengolah tempurung atau batok kelapa, maupun sabutnya.”Hal itu terjadi ada kemungkinan karena pengetahuan masyarakat yang belum sampai ke sana,” ujar Nusirwan, warga Kecamatan Lemong, kepada harianlampung.com, Senin (21/6).

Sementara dari sisi potensi, kata dia, bukan hanya di kecamatannya. Tetapi, di seluruh wilayah di 11 kecamatan di Pesisir Barat memiliki area perkebunan kelapa yang cukup luas.

Artinya buah kelapa yang dihasilkan dari Pesisir Barat jumlahnya cukup banyak. Umumnya perkebunan milik rakyat. Dengan demikian, banyak juga petani yang mengandalkan komoditas ini sebagai penghasilan keluarga.

Namun selama ini manfaat ekonomi dari kelapa, masih terbatas yang bisa dinikmati masyarakat. “Banyak masyarakat yang menjual kelapa dalam bentuk gelondongan dengan cara borongan maupun bijian,” katanya.

Karena itu, dia menambahkan, dibutuhkan upaya peningkatan keterampilan atau kemampuan masyarakat terhadap peluang ekonomi dari komoditas kelapa. Antara lain dengan mengajarkan cara mengolah sabut kelapa atau tempurungnya.

Meski saat ini, hal seperti itu sudah banyak dilakukan petani kelapa di daerah lain di Lampung. Karena secara ekonomi, memang menguntungkan dan memberikan nilai tambah yang lumayan bagi petani daripada menjual kelapa dalam bentuk gelondongan.

“Jika hal ini juga bisa digeluti oleh masyarakat Pesisir Barat, peluang mereka untuk bisa sukses sangat terbuka,” imbuhnya.

Saat ini, pengolahan kulit kelapa yang ada di Pesisir Barat baru ada di Pekon Marang, Kecamatan Pesisir Selatan. Pabrik pengolahan kulit kelapa itu memiliki banyak karyawan. Artinya, bukan hanya petani kelapa yang diuntungkan, tetapi juga menyerap tenaga kerja warga sekitar pabrik.

Karena itu, ia berharap, dinas terkait dapa memberikan pembinaan kepada petani kelapa tentang besarnya potensi ekonomi komoditas ini bagi peningkatan pendapatan mereka.

Lebih penting lagi, dia menegaskan, pemerintah perlu menjamin pemasarannya, dengan memberikan akses pasar sekaligus didukung dengan kemudahan sarana transportasi. “Ada barang tetapi susah menjual karena jalan rusak, repot juga,” katanya.(eva/mfn)

sumber : http://harianlampung.com/index.php?k=kawasan&i=10044-potensi-kelapa-belum-diolah-maksimal